
adanya Yoni di bilik candi maka candi ini berlatar belakang agama HinduBlog ini berisi kegiatan sepedaanku mulai dari awal aku bersepeda lagi setelah selesai sekolah di jogja. Akhirnya baru kesampaian di tahun 2007 mulai naik sepeda lagi hingga sekarang. Berbagai tempat telah dikunjungi dengan sepeda. Silakan menikmati...

adanya Yoni di bilik candi maka candi ini berlatar belakang agama Hindu
Hari kelima Makassar-Gowa
Selesai acara jelajah Sepeda di Toraja malam hari langsung berangkat ke Makassar dengan menggunakan bis, tiba di kawasan benteng Somba Opu Makassar sekitar jam 04.00 wita dan tidur sebentar di kawasan rumah adat Sinjai. Kawasan benteng Somba Opu terdapat berbagai macam replika rumah adat di seluruh kabupaten di Sulsel. Benteng Somba Opu sama kedudukannya dengan benteng Makassar. Keduanya merupakan peninggalan sejarah keperkasaan kerajaan masa lalu di Sulawesi Selatan.

Di Benteng Somba Opu peserta SJN di sambut Kepala Dinas pariwisata Prop Sulsel dan dilepas untuk mengikuti city tour di Makassar dan sekitarnya. Perjalanan menuju ke Museum Bala Lompoa yang merupan bekas istana tua kerajaan Gowa masa lalu yang te;ah direstorasi pada tahun 1980 dan digunakan sebagai museum. Bangunan ini berdiri kokoh di tengah kota Sungguminasa Gowa di sebelah selatan Makassar. Dari Museum perjalanan dilanjutkan ke Pantai Losari dengan melalui jalur dalam kota Makasar yang lumayan ramai, Pantai Losari merupakan pantai di tepi barat kota Makassar tempat bagi warga kota menghabiskan waktu di sore dan malam hari dengan pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah. Jarak yang ditempuh sekitar 40 km
dengan start dan finish di kawasan benteng Somba Opu.

Tempat terakhir dalam city tour ini adalah Benteng Rotterdam, merupakan benteng buatan Belanda utnuk mengintai musuh dari laut. Didalam benteng masih banyak terdapat bangunan tua yang masih terawat dengan baik. Di kawasan benteng ini peserta SJN beristirahat dan dilakukan upacara pelepasan peserta dan ramah tamah dengan sejumlah pejabat Dinas Pariwisata propinsi Sulawesi Selatan.
Perjalanan kembali ke kawasan Somba Opu melalui hiruk pikuk kawasan pertokoan di areal dekat pantai losari, melewati kawasan trans studio dan sekitar 1 jam kemudian baru sampai di rumah adat Sinjai di kawasan benteng Somba Opu. Sampai disana mendapat hidangan palabutung seperti bubur dengan pisang.

Setelah itu acara packing disepeda dimulai, dengan sedikit tanaga yang masih tersisa para perserta SJN sibuk melepas komponen sepeda dan dimasukkan ke tas sepeda dan langsung menuju bandara Sultan Hasanuddin untuk kembali ke tempat masing-masing.

Hari keempat Toraja
Merupakan route yang sangat ditunggu-tunggu para peserta mengingat pesona dan keunikan Toraja
terkenal sampai ke mancanegara. Tana Toraja merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak 350 km dari Makassar itu sangat terkenal dengan bentukbangunan rumah adatnya yang bernama Tongkonan.
Malam hari tiba di Hotel Milisiana di Rantepao, langsung mandi dan rebahkan badan untuk memulihkan tenaga setelah seharian menembus track Enrekang yang luar biasa. Seperti biasa pagi-pagi sebelum start dilakukan peregangan dan senam ringan untuk pemanasan, start dimulai jam 07.00 menuju desa Rantetayo. Pemandangan pedesaan khas toraja mulai terlihat adanya persawahan dan tongkonan rumah khas toraja berdampingan menambah asri suasana pagi mengiringi rombongan Sepeda jelajah Nusantara ini.
Route awal di dominasi oleh jalan aspal pedesaan kemudian jalan tanah, para peserta begitu melihat pemandangan indah langsung berhenti mengambil kamera dan langsung mengambil gambar.
Istirahat etape 1 bayangan di sebuah desa Lembang Maroson di sebuah warung, kebetulan di warung tersebut ada lemang (nasi merah dalam bambu) dan mie instan, etape bayangan karenaetape sesungguhnya masih jauh dan kondisi phisik sudah menurun perlu asupan gizi, maksum sudah 3 jam genjot belum istirahat.
Tiba di kawasan rumah tongkonan yang sangat indah terdapat di kampung Kete Kesu, dari depan terlihat kampung ini berda di tengah lautan padi dengan rentetan atap yang melengkung.asupan makanan. Selesai mengganjal perut perjalananan dilanjutkan dengan jalan yang menurun, jalur menurun yang panjang kadang membuat piringan rem cakram menjadi panas sehingga daya rem berkurang, untuk itu perlu istirahat sebentar untuk mendinginkan rem cakram tersebut.
Ditempat ini peserja disuguhi tari selamat datang khas Toraja yang ditarikan oleh 4 orang gadis berpakaian khas dan mendapat sambutan dari ibu Asisten
Pemerintahan Kab Tana Toraja Utara. Di kampung ini ciri tradisional toraja masih dipertahankan, bisa dilihat ukiran pada
lumbung padi yang cantik dan mempesona. Di belakang kawasan Kete kesu terdapat makam Toraja yang berupa gua-gua dengan peti-peti kayu tempat tulang-tulang disemayamkan.

Kota Enrekang terletak dilereng
perbukitan, hotel terletak di depan sungai yang airnya surut orang setempat menyebut Sungai Dalle.
Tepat jam 08.00 wita tiba di lokasi start di sebuah perbukitan dengan tanjakan yang terjal dan berkelok, start dimulai dengan
jalan beton menurun dengan kerikil yg lepas sehingga membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengendalikan sepeda. Kondisi alam di Enrekang yang berbukit-bukit cukup menguras tenaga para pesepeda ditambah lagi dengan cuaca yang panas cukup menyengat.
Tiba di etape 2 disuguhi air kelapa muda dan gula aren yang konon
dapat menambah kekuatan dan ketahanan tubuh. Dari etape 2 ini
disuguhi jalur yang berbatu yang sangat tidak memungkinkan untuk digenjot akhirnya sepeda dituntun sambil menikmati pemandangan bukit di Enrekang yang memukau. Setelah jalur mendaki tentu ada turunan yang menjadi favorit para peserta dengan kecepatan berkisar 40 km/jam sepeda melaju disela-sela bebatuan
dan jalan tanah. Di jalur ini terdapat jembatan gantung dengan pemandangan yg sangat mangagumkan di sela-sela gemericik air sungai nan jernih. Setelah jembatan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ditempat yg tidak ada tempat untuk berteduh, akhirnya peserta pasrah saja terkena guyuran derasnya air hujan.
Perjalanan menuju etape 3 didominasi oleh tanjakan baik berupa
jalan tanah maupun jalan beton yang penuh kerikil sehingga
menyulitkan sepeda untuk dinaiki, alhasil sekitar hampir 3 km sepeda cuma bisa dituntun sampai jalan raya menuju etape 3 yaitu di Menjelang jam 11.00 peserta di urutan pertama sudah mulai kehabisan tenaga, akhirnya beristirahat di etape 1 sambil menikmati pisang rebus. Ternyata pisang rebus belum mampu untuk memulihkan tenaga mengingat perjalanan masih cukup panjang, masih ada 2 etape lagi, akhirnya atas jasa baik panitia lokal dibuatkan mie instant plus nasi. Dalam kondisi yg lapar mie instan pun habis dalam sekejap seiring dengan pulihnya kondisi para peserta jejalah Nusantara, akhirnya lanjut lagi perjalanan. Menuju Etape kedua melalui jalanan menurun single track melewati hutan dan sungai, ditiap ujung desa banyak penonton yang memberi semangat para peserta.
Rumah makan Bukit Indah yang tepi jalan poros Enrekang Toraja. Lokasi rumah makan ini berada di atas bukit dengan pemandangan jalur sepeda yang telah dilewati sebelumnya.