Minggu, 13 Desember 2009

SJN-9 Hari ke-4 Toraja


Hari keempat Toraja

Merupakan route yang sangat ditunggu-tunggu para peserta mengingat pesona dan keunikan Toraja

terkenal sampai ke mancanegara. Tana Toraja merupakan obyek wisata yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Kabupaten yang terletak 350 km dari Makassar itu sangat terkenal dengan bentukbangunan rumah adatnya yang bernama Tongkonan.

Malam hari tiba di Hotel Milisiana di Rantepao, langsung mandi dan rebahkan badan untuk memulihkan tenaga setelah seharian menembus track Enrekang yang luar biasa. Seperti biasa pagi-pagi sebelum start dilakukan peregangan dan senam ringan untuk pemanasan, start dimulai jam 07.00 menuju desa Rantetayo. Pemandangan pedesaan khas toraja mulai terlihat adanya persawahan dan tongkonan rumah khas toraja berdampingan menambah asri suasana pagi mengiringi rombongan Sepeda jelajah Nusantara ini.


Route awal di dominasi oleh jalan aspal pedesaan kemudian jalan tanah, para peserta begitu melihat pemandangan indah langsung berhenti mengambil kamera dan langsung mengambil gambar.

Istirahat etape 1 bayangan di sebuah desa Lembang Maroson di sebuah warung, kebetulan di warung tersebut ada lemang (nasi merah dalam bambu) dan mie instan, etape bayangan karenaetape sesungguhnya masih jauh dan kondisi phisik sudah menurun perlu asupan gizi, maksum sudah 3 jam genjot belum istirahat.


Tiba di kawasan rumah tongkonan yang sangat indah terdapat di kampung Kete Kesu, dari depan terlihat kampung ini berda di tengah lautan padi dengan rentetan atap yang melengkung.asupan makanan. Selesai mengganjal perut perjalananan dilanjutkan dengan jalan yang menurun, jalur menurun yang panjang kadang membuat piringan rem cakram menjadi panas sehingga daya rem berkurang, untuk itu perlu istirahat sebentar untuk mendinginkan rem cakram tersebut.

Ditempat ini peserja disuguhi tari selamat datang khas Toraja yang ditarikan oleh 4 orang gadis berpakaian khas dan mendapat sambutan dari ibu Asisten

Pemerintahan Kab Tana Toraja Utara. Di kampung ini ciri tradisional toraja masih dipertahankan, bisa dilihat ukiran pada

lumbung padi yang cantik dan mempesona. Di belakang kawasan Kete kesu terdapat makam Toraja yang berupa gua-gua dengan peti-peti kayu tempat tulang-tulang disemayamkan.

Kamis, 10 Desember 2009

SJN-9 Hari ke-3 Enrekang Sulsel

Kota Enrekang terletak dilereng

perbukitan, hotel terletak di depan sungai yang airnya surut orang setempat menyebut Sungai Dalle.

Tepat jam 08.00 wita tiba di lokasi start di sebuah perbukitan dengan tanjakan yang terjal dan berkelok, start dimulai dengan

jalan beton menurun dengan kerikil yg lepas sehingga membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk mengendalikan sepeda. Kondisi alam di Enrekang yang berbukit-bukit cukup menguras tenaga para pesepeda ditambah lagi dengan cuaca yang panas cukup menyengat.

Tiba di etape 2 disuguhi air kelapa muda dan gula aren yang konon

dapat menambah kekuatan dan ketahanan tubuh. Dari etape 2 ini

disuguhi jalur yang berbatu yang sangat tidak memungkinkan untuk digenjot akhirnya sepeda dituntun sambil menikmati pemandangan bukit di Enrekang yang memukau. Setelah jalur mendaki tentu ada turunan yang menjadi favorit para peserta dengan kecepatan berkisar 40 km/jam sepeda melaju disela-sela bebatuan

dan jalan tanah. Di jalur ini terdapat jembatan gantung dengan pemandangan yg sangat mangagumkan di sela-sela gemericik air sungai nan jernih. Setelah jembatan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ditempat yg tidak ada tempat untuk berteduh, akhirnya peserta pasrah saja terkena guyuran derasnya air hujan.

Perjalanan menuju etape 3 didominasi oleh tanjakan baik berupa

jalan tanah maupun jalan beton yang penuh kerikil sehingga

menyulitkan sepeda untuk dinaiki, alhasil sekitar hampir 3 km sepeda cuma bisa dituntun sampai jalan raya menuju etape 3 yaitu di Menjelang jam 11.00 peserta di urutan pertama sudah mulai kehabisan tenaga, akhirnya beristirahat di etape 1 sambil menikmati pisang rebus. Ternyata pisang rebus belum mampu untuk memulihkan tenaga mengingat perjalanan masih cukup panjang, masih ada 2 etape lagi, akhirnya atas jasa baik panitia lokal dibuatkan mie instant plus nasi. Dalam kondisi yg lapar mie instan pun habis dalam sekejap seiring dengan pulihnya kondisi para peserta jejalah Nusantara, akhirnya lanjut lagi perjalanan. Menuju Etape kedua melalui jalanan menurun single track melewati hutan dan sungai, ditiap ujung desa banyak penonton yang memberi semangat para peserta.

Rumah makan Bukit Indah yang tepi jalan poros Enrekang Toraja. Lokasi rumah makan ini berada di atas bukit dengan pemandangan jalur sepeda yang telah dilewati sebelumnya.

SJN-9 Hari ke-2 Maros-Bantimurung


Sampai di lokasi Teaching Farm sekitar jam 23.00 wita langsung menuju kamar masing-masing satu kamar digunakan 4 orang, kami bertiga sekamar dengan Mr Piotr Janiw seorang expatriat dari Polandia. Pagi-pagi sekitar jam 05.00 wita sudah terdengar hiruk pikuk para peserta menurunkan sepeda dari truk untuk dilakukan setting sepeda, yang kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi di Kantin Tiara Puri satu kompleks dengan areal Teaching Farm.

Lokasi Start di Pucak Maros ini mengambil lokasi di depan Rumah adat dekat kolam ikan telaga Semayang, di tempat start sudah menunggu Bp Asisten Pemerintahan Kab Maros, Bp Zaenal Basri Palaguna selaku pengelola Teaching Farm, Staf dari Dinas Pariwisata setempat.

Route di Pucak menuju Bantimurung di dominasi oleh kontur jalan tanah single track, melintasi desa-desa dengan jalan yang relatif datar. Salah satu tempat yang menarik adalah melintasi hutan bambu dan melewati jembatan gantung dengan panjang sekitar 50 meter.
Salah satu kuliner yang menarik di Maros adalah roti maros mirip dengan roti bantal yang dipotong-potong sebelum dimakan, roti ini dihidangkan di sebuah desa di
tengah padang lengkap dengan ubi rebus, pisang rebus dan sambal.

Sampai di lokasi Air terjun Bantimurung Maros di sambut tarian tradisional dan diterima oleh Kepala Dinas Pariwisata, disebutkan bahwa Bantimurung merupakan habitat Kupu-kupu yang terbesar jenis “Papillo Andocoles” dan terdapat pula museum kupu-kupu, air terjun dan pemandangan bukit kapur yang menjulang tinggi.

Air terjun Bantimurung merupakan salah satu obyek wisata andalan Maros dengan bukit kapur

dengan vegetasi tropis yang subur. Di tempat ini bertemu dengan rekan-rekan dari Pemasaran Sulsel yang sedang mengadakan family Gathering. Perjalanan sore hari dilanjutkan menuju kabupaten Enrekang dengan menggunakan bus, tiba di Enrekang sekitar jam 23.00 wita.

Mengikuti Sepeda Jelajah Nusantara seri-9



Kegiatan Sepeda jelajah Nusantara (SJN) awalnya diprakasai oleh beberapa komunitas sepeda di Bekasi dan sekitarnya yang akhirnya berkembang terus hingga terdiri dari komunitas sepeda di tanah air. Pada kesempatan Sepeda Jelajah Nusantara (SJN) seri 9 yang bertajuk “Tour de South Sulawesi Heritage” ini Team sepeda MTB Pupuk Kaltim Cycling Club berkesempatan untuk mengikuti event ini. Pada event ini PKT Cycling Club mengikut sertakan 3 biker MTB antara lain Sugiyono (Dept Operasi Kaltim-3), Sugiarto (Dept Listrik) dan penulis saya sendiri Puput Rahiyanto (Dept Inspeksi Teknik).

Event Sepeda Jelajah Nusantara belangsung mulai tanggal 16 – 20 Oktober 2009 di propinsi Sulawesi Selatan melalui 5 kabupaten/kota dengan tema “Cintailah Warisan Budaya bangsa dan Peduli Lingkungan Hidup”. Dengan diikuti sekitar 40 biker dari berbagai daerah di Indonesia seperti Medan, Padang, Jabodetabek, Bandung, Jawa Tengah, Surabaya, Bontang Kaltim, Sorong Papua dan Sulsel.

Sepeda Gunung atau istilah kerennya sepeda MTB merupakan jenis sepeda yang populer saat ini dan sangat digemari oleh berbagai kalangan dari anak-anak sekolah sampai orang tua dari kalangan bawah sampai kalangan atas bisa bertemu bersama-sama bersepeda. Demikian juga club sepeda MTB di lingkungan Pupuk Kaltim sudah ada di awal tahun 90an, namun baru kali ini berkesempatan untuk mengikuti event berskala nasional yang dikemas dalam Sepeda Jelajah Nusantara (SJN) seri 9 ini.


Hari Pertama--- Jeneponto ke Bantaeng

Start hari pertama dilakukan di desa Tompo Bulu Jeneponto, suatu desa di kaki bukit dengan kontur tanah berbatu. Setelah masing-masing sepeda telah siap dilakukan

pemanasan sebentar dan sambutan dari pemerintah setempat kemudian dikibarkan bendera start. Jalan yang ditempuh berupa

jalan menanjak

dengan kondisi aspal yang sebagian rusak, cuaca pada saat itu

cukup

terik sekitar jam 10.00 wita. Track berikutnya adalah melalu jalan makadam berupa jalan berbatu dengan jarak sekitar 8 km dengan kombinasi tanjakan dan turunan pada route ini diperlukan skill penguasaan sepeda yang cukup tinggi. Team PKT Cycling pada route ini selalu berada di urutan

depan berdampingan dengan team leader. Karena bertepatan dengan waktu sholat Jum’at dilakukan istirahat dan kesempatan bagi umat muslim untuk mengikuti sholat Jum’at di kecapatan Ullu Ere Kabupaten Bantaeng. Kecamatan Ulu ere ini merupakan daerah yang dingin di lereng gunung Lompobatang yang mirip suasana di daerah sekitar Malang Jatim

Tiba di kecamatan Ulu Ere sudah disambut oleh Bp. Dr Ir..Nurdin Abdullah M Agr, selaku Bupati Bantaeng yang kebetulan juga penggemar sepeda, acara ramah tamah diselingi makan kentang rebus kemudian dilanjutkan dengan bersepeda menuju kota Bantaeng. Kontur jalan dari kecamatan Ulu ere menuju Bantaeng merupakan jalur aspal dengan turunan yang berkelok-kelok sepanjang kurang lebih 18 km Memasuki kota Bantaeng yang kalo pada peta terletak diujung bawah pulau Sulawesi banyak sekali dijumpai bangunan model lama, singgah sebentar di komplek pemakaman raja-raja Gowa yang merupakan situs peninggalan kerajaan Gowa. Sesampai di rumah Dinas Bupati Bantaeng disambut oleh tarian tradisional yang dibawakan oleh anak-anak SD.

Jarak tempuh pada route ini sekitar 40 km, usai sudah route hari pertama di Kota Bantaeng, kemudian sepeda dinaikkan truk dan peserta naik mobil menuju ke Pucak Maros dan bermalam di Teaching Farm yang merupakan tempat pendidikan dan latihan tentang tanaman yang berda di suatu ketinggian di kabupaten Maros.

Rabu, 07 Oktober 2009

Sepedaan dengan seli (sepeda lipat)

Trend penggunaan seli (sepeda lipat/folding bike) yang melanda ibukota, membuat saya pengin sekali punya sepeda yg katanya enak digowes dan mudah di-tenteng. Emang sih buat sebagian orang awam agak aneh..ngapain beli sepeda lipat kalo jarang dilipat tidak sperti temen2 di ibukota yg memakai sepeda lipat kombinasi dgn busway atau KRL. Tapi karena udah niat mau beli dan sudah mulai nabung lama akhirnya kesampaian bisa beli sepeda lipat pertamaku.

Sebuah sepeda merk Element Maxx buatan Taiwan ukuran 20" 7 speed dgn design folding DLT
(dahon lisence technologi) berhasil kudapatkan dengan jalan yg berliku...sepeda ini designnya hampir mirip dengan sepeda lipat Dahon Curve 3 yg harganya jauh di atas Element Maxx ini. Pertama kali kupakai sepedaan ke Bontang Kuala..dengan kayuhan 'ngiplik' karena ban ukuran 20" agak susah untuk bisa mngimbangi laju speda Bianchi kepunyaan Pak Ciptadi..akhirnya dengan napas ngos2an sampai juga ke BK dan jadi tontonan orang sepanjang jalan...
Pemakaian ke dua sudah memasuki bulan puasa sepedaan ke brebas pantai..udah mulai
menyatu dengan seli..ternyata cukup lincah untuk meliuk-liuk di kepadatan lalu lintas Bontang menjelang buka puasa. Tanjakan depan polres bisa lancar tanpa turun padahal gear depannya single speed yg belakang aja yg 7 speed.
Racun up grade terus malanda gara-gara sering buka millis id-folding indonesia, akhirnya di-up grade dikit2 dengan mengganti sadel dgn selle royal bolong, crank 50T sun tour, BB cartrigde bearing Neco dan tak lupa Tas Pannier Bikepacker...

Sabtu, 29 Agustus 2009

Trip to Samarinda



Kebetulan ada acara rekreasi kantor yang diadakan rutin setahun sekali dengan tujuan memberikan suasana baru dengan rekreasi ke Samarinda ibukota propinsi Kaltim. Tanggal 8 Agustus Pagi bersiap, kali ini sengaja saya mau bawa si Donimate Putihyg rencananya untuk nemenin saya gowes pagi-pagi di tepian sungai Mahakam
Setelah lepas kedua ban, kedua pedal, handle bar dilepas, seat post diturunkan rangka dimasukkan ke bagasi Jazz eh ternyata masuk lho.. baru deh perabotan lenong pada dimasukkan di sela sela sepeda berikut pic-nya. Di bagasi Jazz memiliki anchor sebanyak 4 buah ini dipake untuk ngikat sepeda agar tidak geser2 kayak di truk trailler itu lho...perlu diikat karena kondisi jalanan Bontang Samarinda yang berkelok kadang kala da jalan yg berlubang.
Sesampai di Samarinda ngkutin beberapa acara family gathering, habis acara aku bergegas menuju parkiran untuk rakit sepeda tidak sampai 1 jam si Dominate putih udah siap untuk di gowes muter2 sekitaran parkiran hotel, abis itu langsung keluar parkiran hotel melesat menyusuri jalan-jalan di sekitaran kota Samarinda yang rata-rata kondisi jalannya datar..namun sayang jarang sekali ketemu orang naik sepeda kalo nggak salah cuma ketemu 2 -3 pesepeda.
Hari Minggu pagipun bersiap kali ini sengaja saya akan menyusuri sungai mahakam yang kalo pagi sering berkabut mengingatkan saya pada kota kelahiran saya Temanggung yg berkabut di kala pagi.

Menyurusi tambak

Hari Minggu 12 Juli 2009, setelah lama tidak sepedaan karena barusan liburan ke Jawa akhirnya baru bisa ikut hari Minggu kemarin.Kami berlima saya, pak Cip, pak Parjono, Handrik dan Deni yg akan menjajal United Vector yg barusan dibeli beberapa hari yang lalu.

Route kali ini melalui jl. pipa kemudian gunung Kusnodo masuk off road ke sidrap lalu Guntung. Sesampai Guntung masih jam 8.00 kemudian dilanjutkan ke pelabuhan ketinting tapi sepi nggak ada pemandangan yg bagus, akhirnya diputuskan untuk mencari lokasi tambak yg ada di daerah tersebut

Lokasi tambak ini benar2 tersembunyi dan di kelilingi oleh hutan bakau yang lebat dan bersebelahan dengan lokasi pabrik pupuk, pantesan hutan bakaunya begitu suburnya karena tiap hari kena debu urea yg menyuburkan tanah. Setelah sampai kami istirahat di sebuah pondok sambil nanya2 apa masih ada buaya di sekita tambak sini? kata petani tambak tsb bilangnya masih sering muncul pak...wah ngari juga ya. Puas photo2 dan liat pemandangan kamipun pulang dengan mengambil route lain yaitu melalui Lhok Tuan, sumur bor, kuburan, kemudian tembis di depan jalan masuk perumahan Bukit Sintuk dan akhirnya finish di lokasi Lonthong Balap depan BSD.